Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2012

Program Wirausaha Muda Mandiri 2012 sudah sampai pada tahapan penjurian wilayah yang dilaksanakan secara bertahap. Berikut adalah hasil Penjurian Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri di wilayah : ;.

Belajar Otodidak, Muzakki Raih Omzet Ratusan Juta

Muhammad Muzakki sukses menggeluti usaha pembuatan booth sejak 2008. Pria asal Jakarta ini mengerjakan pesanan booth mulai tahap desain hingga pesanan selesai dan siap pakai.

Mengasah Naluri Bisnis

Ketika pulang dari kuliah di Amerika Serikat, Erwin Aksa menggenggam optimisme tinggi. Ia sudah belajar banyak dari para usahawan Amerika dan terutama di ruang kuliah.

Empat Tips Kelola Bisnis Pemula ala Ciputra

Pengusaha kawakan Ciputra memberikan tips mengelola bisnis, khususnya untuk pebisnis pemula. Seperti apa?

Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Buku “Chairul Tanjung Si Anak Singkong” diluncurkan bertepatan usia Chairul Tanjung (CT) setengah abad. CT, demikian nama panggilannya, adalah pengusaha Indonesia yang sukses dalam wirausahanya dan memperluas usahanya.

Senin, 23 Juli 2012

Bank Mandiri Pupuk Semangat Kewirausahaan 500 Santri Ponpes di Magelang

Bank Mandiri menggelar workshop kewirausahaan bagi santri-santri Pondok Pesantren di wilayah Magelang dan sekitarnya guna memupuk semangat kewirausahaan di lingkungan pesantren. Workshop dilaksanakan di Pondok Pesantren (ponpes) Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang serta melibatkan sekitar 500 santri ponpes API Tegalrejo dan ponpes lain di sekitarnya. Pembukaan workshop dilakukan oleh Direktur Institutional Banking Bank Mandiri Abdul Rachman serta disaksikan Bupati Magelang Singgih Sanyoto pada Rabu (20/6). 

Selain workshop, Bank Mandiri juga menyalurkan anggaran bina lingkungan senilai Rp200 juta untuk membiayai pembangunan Asrama Entrepreneur di lingkungan Pondok Pesantren API Tegalrejo. 

Dalam workshop ini, para santri akan memperoleh materi mengenai peluang Wirausaha sesuai potensi yang ada di lingkungan sekitar pesantren dan tip-tips berwirausaha dari pengusaha nasional dan finalis program Wirausaha Muda Mandiri (WMM). Mereka adalah pengusaha nasional Aunur Rofiq, penulis buku “Negeri 5 Menara” Ahmad Fuadi, pemenang pertama WMM 2010 Ahmad Abdul Hadi dan Finalis WMM 2009 Firmansyah Budi. 

Direktur Institutional Banking Bank Mandiri Abdul Rachman mengemukakan bahwa keberadaan pesantren di tengah masyarakat memiliki makna strategis untuk mengembangkan sentra ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

“Pesantren telah lama mengakar di masyarakat. Ini merupakan kekuatan yang dapat membangkitkan semangat masyarakat dalam meraih kemajuan hidup. Melalui program ini, kami ingin meningkatkan ketrampilan santri pondok pesantren di sekitar wilayah ini untuk menumbuhkan sense of business sehingga akan tercipta wirausaha-wirausaha muda potensial,” kata Abdul Rachman.

Kegiatan workshop ini merupakan bagian dari rangkaian program Wirausaha Muda Mandiri (WMM) Goes To Pesantren yang dilaksanakan di beberapa pondok pesantren Nahdlatul Ulama (NU) di tanah air yaitu Ponpes Aulia Cendikia Palembang, Ponpes Manonjaya Tasikmalaya, Ponpes Darussalam Martapura dan Ponpes Bago Lombok. 

Beberapa kegiatan lain yang telah dilakukan dalam program WMM Goes To Pesantren antara lain melatih dan mengimplementasikan budidaya lele di delapan pesantren di wilayah Jawa Timur, menggelar Training of Trainer pengurus Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) NU dan mengadakan pesantren Entrepreneur Camp di Pesantren Al-Yasini Sidoarjo yang diikuti oleh 48 Pondok Pesantren di wilayah Jawa Timur. 

Wirausaha Muda Mandiri merupakan program unggulan karena diyakini mampu mengubah cara pandang generasi muda tentang wirausaha, menjadikan sektor UMKM sebagi sektor idaman untuk berkarya serta mampu meningkatkan kualitas dan jumlah usaha kecil. Program ini juga dapat meningkatkan peran perbankan dalam menggerakkan sektor UMKM sebagai pilar dan penggerak perekonomian bangsa. 

Bank Mandiri juga menggelar Mandiri Young Technopreneur, untuk mendorong generasi muda Indonesia agar terus menciptakan karya-karya teknologi terbaru untuk kemajuan bangsa Indonesia.

“Program ini tidak hanya kebanggaan Bank Mandiri, tetapi juga bagi bangsa Indonesia yang memiliki generasi muda kreatif dan mampu berkontribusi pada masyarakat sekitar. Kami optimis Wirausaha Muda Mandiri maupun Mandiri young Technopreneur, akan semakin menginspirasi generasi muda, termasuk yang menempuh pendidikan di pesantren, untuk menjadi pencipta lapangan kerja yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ke arah yang jauh lebih baik,” ujar Abdul Rachman. (mlk)

Selasa, 17 Juli 2012

Bermodalkan Rp 50.000, Produk Dewi Tanjung hingga ke Inggris

International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Awards British Council 2012 akhirnya memilih Dewi Tanjung dan Diana Rikasari sebagai pemenang. Nama keduanya diumumkan pada Awarding Night IYCE Awards 2012, di Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sabtu (14/7/2012). Kedua pemenang berhasil menyisihkan 18 finalis lainnya dalam memperebutkan juara untuk Kategori Desain dan Fesyen serta Kategori Film dan Interaktif.

"Pemilik CV De Tanjung Indonesia, Dewi Tanjung, terpilih menjadi pemenang IYCE Awards 2012 untuk Kategori Desain dan Fesyen, sementara penulis blog dan pemilik UP! Shoes Diana Rikasari menjadi pemenang untuk Kategori Film dan Interaktif," sebut siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (16/7/2012).

Dewi Tanjung pertama kali mengembangkan usahanya hanya dengan bermodalkan Rp 50.000. Berdiri tahun 2003, bisnisnya bergerak dalam produksi kerajinan tradisional, kartu undangan pernikahan, dan suvenir.

Dalam memproduksi kerajinan tradisional ini, Dewi mengkhususkan diri pada penggunaan barang daur ulang, seperti botol, kain perca, dan dedaunan kering.

Ia memberdayakan komunitas wanita di perkampungan Banjararum dan penjara wanita Sukun. Dewi juga sebelumnya merupakan pemenang Wirusaha Muda Mandiri 2010 kategori Industri Kreatif.

Saat ini, CV De Tanjung telah melayani lebih dari 1.200 klien dalam dan luar negeri, seperti  London, Paris, Adelaide, New York, Amsterdam, Arizona, dan Kuala Lumpur. Produk De Tanjung telah menjadi buah tangan Malang favorit selebriti dan tokoh terkemuka Indonesia.

Sementara pemenang untuk Kategori Film dan Interaktif, Diana Rikasari, membuat terobosan dalam industri fashion e-commerce untuk lini sepatunya dengan menggunakan media digital dan internet.

Berpengalaman lima tahun sebagai penulis blog Indonesia terkenal bertajuk "Hot Chocolate and Mint" membuat Diana terlibat aktif dalam belajar memahami dan menginspirasi pembacanya. Ini pula yang mengantarkan bisnisnya menjadi salah satu Top 50 Usaha Kecil Menengah Go Online 2012 versi majalah Marketers.

Toko online UP! tidak hanya memberikan pengalaman berbelanja yang cepat dan menyenangkan, tetapi toko juga menyediakan ruang yang bisa dinikmati oleh pengunjungnya, seperti mengunduh wallpapers, ring tone, dan tema handphone gratis, penyediaan konsultasi mengenai ukuran, desain, dan bahkan kepemilikan halaman profil sendiri.

Lebih dari sekadar usaha sepatu, UP! sukses membangun sebuah komunitas. Kepeduliannya pada masyarakat, terutama anak-anak yang membutuhkan pendidikan, dibuktikan melalui program beasiswa Level UP!.

Kedua pemenang pun berkesempatan mendapatkan pendanaan proyek dari Inggris dan/atau Indonesia. Mereka pun berkunjung ke Inggris selama tujuh hari. Di sana, mereka akan bertemu dengan wirausahawan kreatif muda lainnya dari 27 negara; berjejaring dengan pemuka industri di Inggris, berpartisipasi dalam kegiatan masterclass eksklusif, dan kesempatan untuk mempromosikan usaha kreatif mereka dalam festival internasional.

"British Council akan membuka akses seluas-luasnya kepada para pemenang untuk berkolaborasi secara internasional. Diharapkan, ini dapat mempercepat hubungan mereka dengan para pelaku industri, para agen di Inggris, mitra, dan penanam modal bersama YCE," demikian siaran pers tersebut.(mlk)

Sumber : Kompas.com

Inilah 5 Langkah Wajib Kejar Sukses Berbisnis

Anda ingin sukses dalam berbisnis? Ingat, ada lima langkah wajib dalam menggapai kesuksesan bisnis versi konsultan ARRBEY.

Menurut Kepala Konsultan Strategi ARRBEY Handito Joewono di Jakarta, Selasa (17/7/2012), lima langkah wajib tersebut adalah:

1. Ekspansi bisnis. Perusahaan yang ingin menjadi besar diharap tidak takut melakukan ekspansi bisnis.
2. Apabila sukses terus diraih, bikinlah diversifikasi bisnis. Tentu, bisnis di bidang lain harus benar-benar dipelajari agar tidak mendatangkan kerugian.
3. Tata kelola perusahaan atau corporate governance.
4. Pengembangan teknologi dan jangan abaikan manajemen aset.
5. Nah, kalau perusahaan belum gede-gede amat, Handito lebih menekankan istilah SMS alias mendorong selling (penjualan), marketing (pasar) dan service (pelayanan).

Sumber : Kompas.com

Survei, Bisnis Menggiurkan di Balik Pemilukada

Survei politik telah berkembang menjadi bisnis yang memiliki prospek cerah. Uang bernilai ratusan milyar hingga triliun siap dipertaruhkan para kandidat untuk mendapat gambaran opini publik dalam pemilihan umum kepala daerah.

"Hitungan kasar dengan menggunakan indikator angka terendah saja, survei pemilukada memiliki nilai bisnis mencapai Rp 715,5 miliar," papar Agus Herta Sumarto, peneliti PRIDE Indonesia dalam Diskusi Survei Pemilukada DKI, Survei Ilmiah atau Dagang di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (17/7/2012).

Agus menguraikan, angka tersebut diperoleh berdasarkan beberapa indikator sederhana. Berdasarkan jumlah kabupaten/kota dan provinsi maka terdapat 530 kali pemilukada di Indonesia.

Dalam setiap ajang pemilihan biasanya terdapat antara 3 sampai 5 pasangan kandidat. Masing-masing pasangan calon biasanya membayar lembaga survei untuk menggambarkan keunggulan mereka.

Survei tersebut biasanya dilakukan minimal tiga kali dalam setahun dengan biaya per survei antara Rp 150 juta - Rp 250 juta per pasangan calon untuk level kabupaten/kota.

"Potensi ekonomi survei pemilukada kira-kira Rp 150 juta x 3 pasang kandidat x 3 kali survei x 530 kabupten/kota+provinsi = Rp 715,5 milyar," jelas Agus.

Angka-angka tersebut jelas masih bisa bertambah. Pasangan calon yang kaya, misalnya, bisa menggunakan lebih dari satu lembaga survei.

Untuk wilayah "gemuk" dengan pasangan calon yang lebih mapan, lembaga survei bisa saja memasang harga per survei yang lebih tinggi.

Dengan nilai ekonomi dan potensi keuntungan yang menggiurkan itu, tak heran bila lembaga-lembaga survei beradu dalam merebut pesanan para kandidat.

Bahkan, para peneliti pemula yang bermodal pun ikut berburu bagian survei dengan mendirikan lembaga survei baru. "Untuk menarik simpati, keilmiahan survei bisa diperdagangkan, dibisniskan," lanjut Agus.

Caranya bisa melalui manipulasi data dan merekayasa metode. Tujuannya untuk mempengaruhi opini publik dengan gambaran keunggulan calon yang memesan.

Menurut Agus, sebenarnya tidak ada larangan bagi tim pemenangan pasangan calon untuk melakukan menjalin kerjasama dengan lembaga survei.

Permasalahannya terjadi manakala hasil survei terdistorsi oleh kepentingan pemenangan pasangan tertentu.
"Tidak masalah survei bekerja sama dengan tim pemenangan. Tapi jangan direkayasa. Pahit bilang pahit, manis bilang manis," tandas Agus.

Namun, dengan iming-iming keuntungan yang besar, apakah lembaga survei dan tim pemenangan berani menyajikan hasil survei yang dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya?
Agus menyatakan sudah saatnya pemerintah dan lembaga legislatif menelurkan aturan dan kode etik yang bisa membatasi permainan bebas kongkalikong lembaga survei dan tim pemenangan yang bisa menipu publik.(mlk)

Sumber : Kompas.com