Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2012

Program Wirausaha Muda Mandiri 2012 sudah sampai pada tahapan penjurian wilayah yang dilaksanakan secara bertahap. Berikut adalah hasil Penjurian Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri di wilayah : ;.

Belajar Otodidak, Muzakki Raih Omzet Ratusan Juta

Muhammad Muzakki sukses menggeluti usaha pembuatan booth sejak 2008. Pria asal Jakarta ini mengerjakan pesanan booth mulai tahap desain hingga pesanan selesai dan siap pakai.

Mengasah Naluri Bisnis

Ketika pulang dari kuliah di Amerika Serikat, Erwin Aksa menggenggam optimisme tinggi. Ia sudah belajar banyak dari para usahawan Amerika dan terutama di ruang kuliah.

Empat Tips Kelola Bisnis Pemula ala Ciputra

Pengusaha kawakan Ciputra memberikan tips mengelola bisnis, khususnya untuk pebisnis pemula. Seperti apa?

Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Buku “Chairul Tanjung Si Anak Singkong” diluncurkan bertepatan usia Chairul Tanjung (CT) setengah abad. CT, demikian nama panggilannya, adalah pengusaha Indonesia yang sukses dalam wirausahanya dan memperluas usahanya.

Tampilkan postingan dengan label Kewirausahaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kewirausahaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

Peluang Bisnis Es Jelly Manohara

Tawaran es jelly makin marak. Minuman dingin yang satu ini memang menarik sebagai pilihan jajanan bagi anak-anak dan remaja. Apalagi jika ditambah dengan aneka bentuk serta warna jelly yang bervariasi, akan menarik untuk dibeli.

Salah satu tawaran es jelly datang dari Es Manohara. Es Manohara sudah hadir sejak tahun 2011 lalu dan berpusat di Jakarta. Saat ini, Es Manohara sudah memiliki 60 gerai yang seluruhnya milik mitra mereka. Lokasi gerai di Jakarta dan Bandung.

Es Manohara menyajikan es jelly dengan aneka bentuk. Misalnya, bentuk lumba-lumba, bunga, dan hati. Selain itu, ada juga jelly berbentuk mi, telor ceplok, serta telor puyuh pada menu es mi telor. Harga satu porsinya murah meriah, cuma Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per cup.

Jadi, terjangkau untuk anak sekolah dasar maupun remaja di bangku SMP dan SMU. Untuk menjadi mitra Es Manohara, Hilman Rusli, pemilik Es Manohara, menawarkan investasi dengan nilai Rp 4,5 juta.
Dengan mengambil paket seharga ini, mitra akan memperoleh booth, perlengkapan siap jual es jelly, pelatihan, serta bahan baku awal es jelly untuk 150 cup.

Hilman membuat asumsi, dengan menjual 50 cup per hari, mitra bisa memperoleh omzet sebesar Rp 4 juta per bulan. "Laba bersihnya 20 persen hingga 30 persen dari omzet," tutur Hilman. Dengan begitu, mitra bisa kembali modal hanya dalam enam bulan.

Hilman mengklaim, Es Manohara memiliki tiga keunggulan ketimbang pelaku usaha es jelly lainya. Pertama, harga jualnya murah alias terjangkau bagi anak-anak dan remaja. Kedua, bentuknya unik dan variatif sesuai dengan tren yang ada di dunia anak maupun remaja.

Ketiga, tentu saja, sehat. "Karena bahan baku utamanya dari serat," kata Hilman. Menurut Hilman, bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan es jelly-nya aman untuk dikonsumsi anak-anak.
Sehingga, tidak membuat orang tua khawatir saat anak mereka mengkonsumsi Es Manohara. Anda tertarik bermitra? (Revi Yohana/Kontan)(mlk)

Sabtu, 03 November 2012

Bermodal Rp35 Juta Langsung "Banting Stir" Jualan Nasi

BERAWAL dari keinginannya menjadi seorang entrepreneur, Lailatus Sa’adah sejak duduk dibangku sekolah dasar telah memberanikan diri menjual barang yang berhubungan dengan anak-anak.

Perempuan yang kerap dipanggil Ella ini melihat, pada masa itu anak SD sedang menyukai buku-buku kecil yang lucu (seperti note). Melihat hal tersebut Ella mencoba mengisi waktu luangnya dengan membuat buku-buku kecil.

"Entah saat itu apa yang ada dipikiran saya, yang saya ingat saya hanya memanfaatkan peluang tersebut. Di waktu luang, saya membuat buku note yang lucu-lucu dan keesokan harinya saya jual ke teman-teman," ujar Ella kepada Okezone.

Wanita berusia 22 tahun lulusan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember jurusan D3 Teknik Kimia ini mengaku, momen tersebut adalah monet yang sangat berharga baginya. Karena menurutnya, walaupun Ella menjualnya dengan harga Rp100 tapi dia mengaku sangat senang karena buku-buku kecil yang dibuatnya selalu habis dibeli teman teman.

Pernah juga Ella berjualan pensil, penghapus warna warni, stiker-stiker lucu, permen bentuk lipstik yang pada saat itu sedang popular di anak-anak SD. Dirinya mengaku selalu berganti-ganti jualannya sampai dirinya duduk di bangku SMA. Namun semua itu tidak terlalu diseriusi untuk mencari keuntungan yang banyak, Ella mengaku dulu melakukannya hanya karena senang melakukannya.

Ella terlahir dari keluarga sederhana yang sangat spesial ini menceritakan, dalam keluarganya memiliki double adik kembar yakni dua kembar laki-laki dan dua kembar perempuan serta satu kakak perempuan, Ella juga memiliki orangtua yang sangat mendukung semua langkah yang dipilih anaknya untuk sukses, termasuk keinginannya menjadi seorang entrepreneur.

Krisis Ekonomi Melanda

Ketika Ella lulus dari SMA, keluarganya mengalami krisis ekonomi. Ada kabar berita bahwa dirinya belum tentu bisa berkuliah karena saat itu penjualan songkok Bapaknya yang biasanya dapat menghidupi keluarga sedang mengalami macet.

"Bila bulan-bulan sebelumnya bisa selalu mengirimkan beberapa ratus kodi songkok ke luar kota tiba-tiba terhenti sehingga stok songkok Bapak di gudang membludak dan Bapak mulai memberhentikan satu demi satu pegawainya hingga tak ada satupun pegawai yang tersisa," lirih Ella.

”Namun, Bapak tetap ingin menguliahkan saya, alhasil bapak meminjam sejumlah uang ke bank untuk membiayai kuliah saya. Salah satunya, karena hal inilah yang membuat saya benar-benar mulai berfikir serius untuk masa depan saya," tutur Ella.

Awalnya, terbesit dalam pikiran Ella untuk menjadi pegawai di perusahaan besar di Indonesia seperti Unilever atau perusahaan-perusaan asing. Berangkat dari sana, saat kuliah pun Ella mempersiapkan akademik dan segala skill yang dibutuhkan di dunia kerja. Termasuk hal-hal yang bisa menambah poin ketika Ella memasukkan curriculum vitae ke sebuah perusahaan, seperti memenangkan beberapa kompetisi akademik (karya tulis) berskala nasional, menjadi asisten dosen, menjadi seorang organisatoris, mencari pengalaman menjadi pembina di salah satu SMP dalam hal akademik dan lain sebagainya.

"Semua itu saya lakukan hingga IP pun tidak pernah kubiarkan di bawah 3,5. Tapi saya tidak sama sekali menikmati hal tersebut, hingga pada akhirnya saya duduk menjadi peserta di sebuah seminar yang berjudul entrepreneur," cerita Ella.

Di dalam seminar itu, Ella baru menyadari bahwa ternyata inilah jalan hidupnya, dirinya baru menyadari bahwa kesenangan yang dulu selalu dilakukannya ternyata merupakan sebuah profesi yang besar, "profesi menurut saya mulia dan bisa membawa saya menuju kesuksesan (itu tekad dari dalam diri saya)," kata Ella.

Jualan Nasi Krawu

Sepulang dari seminar Ella mulai memikirkan peluang apakah yang bisa dimanfaatkannya untuk membantu perekonomian keluarganya. Keesokan harinya Ella pulang ke Gresik, sesampainya di sana, Ella diajak berbincang-bincang dengan ayahnya yang ingin "banting stir" dari penjual songkok menjadi penjual nasi krawu khas dari kota Gresik.

"Bapak ingin memanfaatkan sisa uang yang dipinjam bapak ke bank (saat itu tinggal Rp35 juta) untuk membuka sebuah depot. Saya menanggapinya dengan semangat, walau dari dalam hati bertanya, 'apa cukup ya Rp35 juta untuk membuka depot seperti yang diinginkan bapak tersebut?'" tanya Ella.

Hari itu juga, di sore harinya, Ella mulai beraksi dengan bapaknya untuk mencari lokasi, setelah ditemukan lokasi yang cocok dan kebetulan ada tulisan "dikontrakkan", Ella langsung mengambil HP untuk menghubungi nomor yang tertera di sana. Ella menanyakan harganya sewa per tahun yang ternyata membutuhkan dana Rp25 juta, dan sewa minimal harus langsung dua tahun. Harga tersebut jelas tidak cukup uang Bapaknya yang akhirnya Ella mengajak bapaknya untuk pulang dan merundingkannya.

Sesampai di rumah, ternyata Bapaknya bertekad tetap ingin menyewa kontrakan itu, sementara sisa uang yang dibutuhkan pinjam lagi ke bank. Di benak Ella, sang Ayah pun merupakan orang yang berani mengambil risiko. Namun, keberanian itu tidak disetujui oleh seisi rumah. Akhirnya bapak mengajukan usul 'Ya sudah Bapak mau jualan keliling nasi krawu yang sudah dibungkus saja, nanti bapak membuka lapak kecil-kecilan di depan rumah kontrakan tadi di pagi hari'.

Betapa trenyuhnya hati Ella melihat semangat bapak yang tak kunjung reda untuk menghidupi keluarga, walaupun usaha yang sebelumnya telah dibangun bapak tiba-tiba runtuh dan menimbulkan dampak yang cukup berarti bagi keluarga, tapi semangat itu bisa secepat kilat tumbuh lagi.

Mendengar jawaban sang bapak, seluruh anggota keluarga yang diajak berunding mendadak diam. Hingga Ella mendengar kakaknya berkata 'Ya Allah, Bapak ndak malu ta jualan nasi krawu bungkusan keliling kayak gitu, aku ndak tega Pak lihat sampeyan gitu'. Bapaknya malah ketawa, "hahaha...kenapa harus malu, manusia itu hidup untuk berjuang selebihnya serahkan pada yang di atas..yang penting semangat..semua jalan harus dicoba, jangan mendahulukan malu," tutur Bapak Ella.

Pelajaran besar kembali didapatkan Ella, saat itu tiba-tiba terbesit maraknya franchise-franchise. Dari situlah Ella memikirkan bagaimana caranya agar nasi krawu bisa dibuat franchise. Pada saat itu Ella meninggalkan forum tadi dan menyendiri di kamar untuk berfikir gimana caranya nasi krawu bisa dimodif sehingga bisa diterima mayarakat luas.

Kemudian Ella berpikiran menuju ke mobilitas masyarakat yang semakin lama semakin meningkat. Dari situ tentu dibutuhkan makanan yang praktis dan cepat, namun kebanyakan makanan praktis dan cepat identik dengan junkfood yang berasal dari luar negeri. Padahal menurunya Indonesia kaya akan warisan kuliner nusantaranya yang juga tidak kalah enak dengan makanan  dari luar. "waaaah....kenapa saya enggak buat nasi krawu jadi makanan praktis saja yaaa..dan selanjutnya akan saya jual dengan sistem franchise," ujar Ella kala itu.

Saat itu sontak membuat Ella langsung beranjak dan keluar dari kamar, “sampun pak, bapak jangan jualan nasi krawu..yang jualan aku aja pak di kampus. Aku diajari aja cara masaknya”. Seketika mucul kata-kata itu karena Ella tidak tega melihat bapaknya yang usianya sudah memasuki kepala lima masih mau berjualan keliling.

Ikut Kompetisi

Pada saat itu semua anggota keluarga mendukung setelah dijelaskan konsep franchise yang dimilikinya. Ella dulu memulainya dengan menitipkan krawu burger di kantin-kantin jurusan  ITS Surabaya pada tanggal 17 April 2011. Saat itu pasar yang ditujunya cukup menerima produknya dengan sangat baik, terbukti dengan hanya dalam satu jam, produk titipannya tersebut telah habis terjual. Karena antusiasme pasar yang cukup baik ini, semangatnya semakin berapi-api untuk mengembangkan usahanya. Namun, untuk mengaktualisasikan mimpi tersebut bagaimanapun tetap dibutuhkan sejumlah modal.

"Saya mencoba ke beberapa investor namun tidak memberikan hasil, sampai akhirnya saya melihat ada selebaran kompetisi diplomat success challenge season 2. Ada sedikit terbesit dalam pikiran saya bahwa saya tidak mungkin memenangkannya karena sepertinya acara ini begitu besar, apalagi ditambah ada pak Helmi yahya yang merupakan idolaku duduk sebagai juri yang semakin menambah ke-nervous-anku.”ungkap Ella.

Namun Ella kembali mengingat semangat bapaknya yang begitu hebat. Akhirnya  ella menguatkan dari dalam hati dengan memulai melengkapi semua berkasnya dan kukirim template proposalnya. Setelah mengirimpun dirinya mengaku sama sekali tidak ada fikiran untuk menunggu kabar gembira akan lolos. Saat itu Ella malah sibuk mengikuti kompetisi besar lain yang sekiranya juga bisa membantunya untuk mendapatkan sejumlah modal. Kompetisi tersebut adalah shell liveWIRE Business Start up Award 2011. Kompetisi itupun juga harus mengalahkan banyak peserta se-Jawa Bali dalam beberapa tahapnya untuk mendapatkan modal usaha sebesar Rp20 juta.

Semangatnya kembali berkobar-kobar dengan ditemani Teguh Indoko yang dulu teman dekatnya dan kini telah menjadi suaminya, saat itu Ella dan suaminya mulai membuat satu booth dengan dana yang diberikan oleh PT. Shell. Dalam perjalanannyapun dibantu beberapa orang tim yang selalu silih berganti, hanya suami dan keluarganya saja yang tetap setia mulai awal menemaninya berjuang hingga sekarang.

"Di tengah-tengah rapat bersama, tiba-tiba saya ditelepon oleh panitia diplomat success challengeseason 2, beliau memberikan kabar bahwa saya lolos seleksi untuk menjadi finalis di ajang ini dan harus dikarantina selama dua minggu di Jakarta. Hati saya semakin bergemuruh mengucap syukur yang tiada henti, hampir perjuangan saya saat itu selalu diberikan kemudahan oleh Allah SWT," ungkap Ella.

Setelah mendapat kabar tersebut Ella berangkat ke Jakarta, menjalani masa karantina yang didalamnya sangat banyak tantangan-tantangan yang harus diselesaikannya untuk menjadi pemenang dan pulang membawa modal usaha yang sangat besar. Dengan tekad penuh dan semangat yang kuat seperti yang diajarkan oleh bapaknya, Ella terus mencoba bertahan atas semua tantangan yang diberikan walau sempat di masa-masa akhir perjuangan, di 4 besar Ella menangis karena dirinya ingin sekali berkomunikasi dengan keluarga terutama dengan suaminya.

"Entah apa yang saat itu saya pikirkan, saya hanya butuh telepon orangtua saya dan mas Teguh untuk diberikan sedikit kata-kata semangat. Tapi hal tersebut tidak diperbolehkan, yah akhirnya saya hanya kembali mengingat niat awal dan semua ajaran-ajaran bapak saya. Akhirnya saya bisa kembali berdiri tegap dan ternyata alhamdulillah saya juga diberikan kesempatan untuk menjadi pemenang di ajang ini. Dan kali ini saya menangis lagi tapi menangis bahagia," ujar Ella.

Akhirnya Ella pulang dengan membawa modal dan kembali berjuang. Saat ini outlet-nya akan memasuki sembilan outlet. “Dalam perjuangan ini saya selalu mengingat sabda Nabi Muhammad SAW yang diajarkan bapak saya, sabda tersebut adalah "man jadda wa jada" artinya "barang siapa yang mau bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya," tutur Ella. Sampai saat inipun kata-kata itu masih terus menghiasi langkahnya dalam berjuang, karena Manusia itu Hidup untuk Berjuang. (ade)(//mlk)


Sumber : Okezone.com

Rabu, 05 September 2012

5 Tanda Bisnis Pemula yang Bakal Sukses

Setiap tahun ratusan perusahaan baru bahkan ribuan startup (perusahaan baru bidang teknologi) mencoba peruntungannya dalam persaingan bisnis yang makin ketat. 

Tak jarang beberapa diantara mereka harus gigit jari dan terpaksa melihat bisnis yang mereka bangun dari awal itu harus berhenti beroperasi karena kalah bersaing.

Di pihak lain, sebagian diantara pebisnis pemula ini akhirnya lolos dalam saringan dan berhasil mengembangkan bisnisnya hingga menjadi gurita besar. 

Sebetulnya tanda-tanda bisnis baru yang bakal menjelma menjadi perusahaan besar bisa dilihat sejak awal. Dikutip dari laman Forbes, Selasa, 17 Juli 2012, berikut adalah 5 tanda-tanda bisnis-bisnis para pemula yang bakal meraih kesuksesan:

1. Memiliki konsumen jelas
Tahukah Anda, bisnis yang sedang Anda kerjakan memiliki konsumen yang bersedia membayar produk atau jasa yang anda tawarkan. Sayangnya, banyak pebisnis baru yang gagal menangkap asumsi para konsumennya. 

Bisnis baru yang bakal menuai sukses biasanya menghitung skala pertumbuhan berdasarkan basis data konsumen yang teruji, tetap dan rela membayar. 

2. Memperlihatkan perspektif strategis
Ini merupakan lawan dari perusahaan yang berjalan dalam posisi panik atau tengah berusaha bertahan. Bisnis baru yang sukses senantiasa merencanakan dan berpikir jauh mengenai ekspansi bisnis secara nasional dan global. 
Perusahaan itu juga memiliki agenda setahun dan lima tahun yang jelas.

3. Bagaimana cara pengelolaan keuangan?
Tak pernah ada waktu yang lebih baik dalam memulai sebuah bisnis. Namun, mungkin tak ada waktu yang lebih menantang dibandingkan ketika Anda harus berhadapan dengan masalah pinjaman maupun pendanaan saat memulai bisnis di tahap awal. 

4. Dijalankan penuh transparansi
Komitmen, integritas, dan transparan adalah tiga hal yang sangat berkaitan. Organisasi yang sukses biasanya memiliki sedikit, bahkan tak ada satupun, hal yang disembunyikan. Hidup akan terasa lebih mudah jika Anda memiliki sedikit rahasia mengenai metode tagihan, harga, maupun strategi akuisisi. 
Strategi ini juga sangat efektif untuk membuat para pekerja Anda lebih loyal dan memiliki keterikatan yang kuat.

5. Komunikasi
Sebuah pepatah mengatakan, Setiap pemimpin maupuan perusahaan besar senantiasa memiliki komunikasi yang baik. Mereka mengkomunikasikan berita baik dan buruk dalam bahasa tegas dan langsung.  

Perusahaan besar biasanya tidak pernah lahir karena satu orang dan berdiri sendiri. Bahkan perusahaan yang telah sukses saat ini menyadari setiap peluang dan kebutuhan vital akan berhasil ditempuh jika terjadi komunikasi yang baik.  (sj)(mlk)

Sumber : vivanews.com

Rabu, 11 Juli 2012

Dulu Tukang Becak, Kini Punya 10 Mobil dan 2 Pabrik

Bertahun-tahun lamanya Sanim menggantungkan nasib pada sebuah becak yang dimilikinya. Kini nasibnya berubah, ia menjadi jutawan dengan dua pabrik, tiga rumah, 10 mobil, dan dua kali haji dari usahanya itu.

Sanim (60) merupakan seorang pengusaha asal Desa Rawa Urip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Ia menjadi salah satu contoh warga yang berhasil keluar dari garis kemiskinan.

Dua usaha yang ia jalani saat ini ialah pabrik pembuatan garam dan pupuk organik. Namun, nama Sanim lebih dikenal sebagai pengusaha garam ketimbang pengusaha pupuk organik.

"Sekarang saya punya 10 mobil, tiga di antaranya mobil pribadi tipe Daihatsu Taruna, Honda Jazz, dan mobil pertama ketika saya beli tahun 1997, yaitu Daihatsu Espass, bangga sekali saya saat itu. Sisanya mobil angkut produksi, seperti Fuso," ujar bapak empat anak ini, saat ditemui Kompas.com di acara peluncuran buku kewirausahaan Rhenald Kasali di Gedung WTC, Jakarta Kamis (5/7/2012).

Adapun beberapa jenis garam yang diproduksi ialah jenis garam grosok (garam non-yodium masih berbentuk butiran besar dan kasar, biasanya dipakai untuk budidaya dan pengawetan ikan), garam dapur (konsumsi), dan garam industri untuk pabrik tekstil.

Sementara jenis pupuknya, yakni organik tipe KCL (kalium clorida), fungsinya meningkatkan unsur hara kalium di dalam tanah budidaya.

Kemampuan produksi kedua pabriknya, Samin mengaku, dalam setahun mampu memproduksi masing-masing 2.000 ton baik garam maupun pupuk organik.

"Oh kalau barang jadinya, itu mah (harga jual) rahasia perusahaan, Mas. Yang penting perhitungan saya ini ada lebihnya gitu. Saya tidak tahu kiranya berapa, tapi tahun kemarin bersih minimal mencapai Rp 400 juta per tahun," tuturnya sambil tertawa.

Menimba ilmu dari pabrik garam
Sanim menceritakan, pada awalnya ketika masih sebagai tukang becak, ia sering mangkal di persimpangan Jalan Cirebon. Di tempatnya mangkal, berdiri sebuah pabrik garam yang cukup besar.

Sanim pun tertarik untuk melamar kerja di pabrik tersebut, dengan harapan nasibnya bisa lebih baik. Beruntung, Ia diterima bekerja di situ.

"Setelah dua bulan bekerja, saya pun berpikir, daerah kita kan punya potensi garam, loh kenapa saya tidak bisa membuat garam sendiri," ungkapnya.

Akhirnya, Sanim berhenti kerja dari pabrik garam tersebut. Di situlah ia mulai berpikir, usaha garam ternyata mampu mengeruk keuntungan yang lebih besar dari buruh pabrik, apalagi tukang becak.

Baginya, garam bukan hanya sebagai bumbu penyedap makanan, melainkan juga dibutuhkan untuk keperluan industri, pertanian, dan perikanan. Ternyata, tidak sia-sia pernah bekerja di pabrik garam. "Jadi bisa dikatakan cuma menimba ilmu di pabrik tersebut," tuturnya.

Ilmu yang diperolehnya ialah cara membuat garam krosok. Sanim pun menggarap empang peninggalan orang tuanya yang berada di belakang rumahnya untuk mencoba membuat garam.

"Alhamdulillah, lama-lama usaha saya berkembang, sampai yang awalnya usaha di halaman belakang rumah, lalu berkembang dan kita bisa membeli tanah untuk tempat produksi yang lebih luas lagi," ujar Sanim, yang mampu mengantarkan keempat anaknya meraih gelar sarjana ini.

Petani garam umumnya memanfatkan empang atau kolam di dekat pantai. Caranya, dengan mengumpulkan air laut ke dalam empang. Lalu, dengan bantuan sinar matahari, air laut yang terkumpul tersebut akan menguap dan menghasilkan kristal-kristal bersenyawa Natrium clorida (NaCl).

Kristal NaCL itu dikumpulkan oleh petani, lalu dibersihkan berulang kali dari kotoran yang melekat hingga menjadi butiran halus dan kecil, tetapi non-yodium.

Itu dulu, tetapi kini, selain memproduksi sendiri garam krosok, ia juga membelinya dari petani garam di sekitar Cirebon. Dengan kisaran harga beli sekitar Rp 400 per kilogram.

Harga belinya murah disebabkan garam yang diterima masih sangat kotor dan berwarna hitam. Kemudian ia cuci kembali dengan alat seadanya.

Akhirnya, Ia memutuskan untuk membeli alat pencuci khusus garam krosok seharga Rp 20 juta-an. Lebih efisien, dan garam krosok bisa dibersihkan dengan cepat. Ia pun menjual garam itu ke industri, pertanian, dan perikanan.

Namun, Sanim enggan menyebut berapa harga jual garamnya. Di beberapa iklan promosi yang beredar di internet, harga jual garam krosok bersih bisa mencapai Rp 810.

Peralatan produksi garamnya pun masih menggunakan mesin tradisional. Menurutnya, ini warisan budaya setempat. Lagi pula, ia menganggap mesin tradisional lebih tahan lama dan tidak menimbulkan suara bising ketimbang mesin modern berbahan besi.

Mesin tradisional inilah yang digunakan Sanim untuk mengolah garam krosoknya menjadi garam beryodium dan bisa dikonsumsi oleh masyarakat.

"Kalau barang, jualnya habis-habis terus, tak pernah berkurang. Karena pemasaran banyak sekali setelah garam beredar," ungkapnya.

Memanfaatkan KUR
Lambat laun, Sanim pun mulai berpikir untuk mengembangkan usaha lebih besar lagi dari yang ia jalani sekarang. Pada 2010, ia memutuskan untuk menggunakan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disediakan perbankan BUMD Jawa Barat, yakni Bank Jabar Banten (BJB).

Sebelumnya, ia hanya memanfaatkan jasa bilyet giro Bank BJB untuk bertransaksi dengan pembeli luar kota. "Kita pernah mengajukan utang pinjaman ke Bank BCA, tapi waktu itu ditolak. Setelah itu akhirnya kita ke bank BJB. setelah diproses dan melihat prospek perkembangan usaha kita, akhirnya kita dapat dana," katanya bercerita saat kesulitan memperoleh dana usaha.

Untuk menghasilkan 2.000 ton garam, paling tidak Sanim harus mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp 1 miliar. Untuk itu, ia sangat membutuhkan suntikan dana bank untuk memperlancar arus produksinya.

Ia mengaku tidak pernah mengalami kredit macet selama meminjam ke bank. "Ke depannya nanti saya akan meminjam kembali ke Bank BJB sebesar Rp 500 juta. Kepenginnya saya balikin sekitar 1 tahun," katanya.

Sementara itu, ditemui Kompas.com di tempat yang sama, Dirut Bank BJB Bien Subiantoro mengatakan, bank yang dipimpinnya itu memberikan akses kemudahan bagi para pengusaha mikro melalui jalur KUR.

Salah satu langkah BJB ialah meluncurkan suatu program bernama "Warung BJB". Warung tersebut semacam bank keliling khusus untuk menyalurkan pembiayaan usaha mikro.

Kini, 430 Warung BJB tersebar di pasar-pasar tradional di beberapa wilayah Jawa Barat dan Banten.
"Khusus kredit (KUR) kita masih fokus di Jawa Barat dan Banten. Ini karena untuk menyalurkan kredit, kita harus tahu dulu customer-nya," tutur Bien.

Dirinya mengklaim, pengusaha mikro tidak perlu lagi berpikir ribetnya proses birokrasi pengajuan dana KUR.
Biasanya, lanjut Bien, pengusaha mikro yang datang ke BJB untuk mengajukan KUR didiskusikan terlebih dahulu, bank pun bisa langsung mencairkan dananya. Asalkan pengusaha punya tempat usaha tetap.

"Kita memberi dana mulai paling kecil yakni Rp 2 juta hingga yang paling besar sampai Rp 50 juta. Begitu tumbuh, lalu kita naikkan kembali levelnya sampai RP 100 juta. Lalu begitu tumbuh lagi, kita naikkan kembali level pinjamannya. NPL-nya (kredit bermasalah) pun kecil, hanya empat persen (maksimal lima persen) untuk mikro," kata Bien, yang pernah menjabat Direktur Treasury dan Internasional Bank BNI ini.

Rhenald Kasali tentang Sanim
Guru Besar FEUI sekaligus penggiat Rumah Perubahan kewirausahaan Rhenald Kasali mengatakan, banyak sekali orang yang menjadi tukang becak selama 20 tahun dan bahkan hingga akhir hayatnya.

"Tapi Pak Sanim berubah, justru Pak Sanim melihat dirinya ada potensi. Dan sekarang Pak Salim menjadi pengusaha besar di bidang garam. Ketika sebagian besar orang justru ingin impor garam. Pak Sanim berkutat untuk menyelamatkan garam Indonesia. Jadi ini salah satu contoh," ungkapnya pada sambutannya di peluncuran buku terbarunya tentang kewirausahaan.

Rhenald menyebut Sanim dan pengusaha mikro sejenis adalah para "pengusaha cracking". Para pengusaha yang awalnya bukan dari kalangan keluarga pengusaha, tetapi mereka nekat keluar dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat pada umumnya. (mlk)

Editor : Benny N Joewono
Sumber  : Kompas.com

Rabu, 04 Juli 2012

Dengan Bubur Kertas Cetak Omzet Puluhan Juta Rupiah

Sumarsono tak putus asa ketika perusahaan tempat bekerjanya kolaps dan bubar karena krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998. Ia pun memutar otak mencari akal usaha apa yang harus dikerjakannya. Dengan berbekal keahliannya di bidang grafis, ia akhirnya membuat panel seni bubur kertas. Saat ini Sumarsono bisa meraup puluhan juta setiap bulannya.

"Tahun 1989, pertama kali masuk Jakarta, saya kerja di advertising outdoor. Saya di production dan grafis, ya ada basic pemahaman terhadap gambar. Tahun 1998 kolaps, bubaran semua. Ada dua tahun menganggur," sebut Sumarsono, pemilik LaxsVin Art, kepada Kompas.com dalam sebuah pameran, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia memulai mengerjakan panel seni bubur kertas pada tahun 2000. Tepat dua tahun sejak dia tidak lagi mempunyai pekerjaan. Beda dengan lukisan pada umumnya yang menggunakan kanvas dan cat, Sumarsono justru memakai panel kayu sebagai pengganti kanvas dan bubur kertas.

Bahan bekas memang menjadi pilihan sebagai bahan baku bagi karya seninya. Waktu itu, ia mengaku belum mengenal adanya kampanye peduli lingkungan atau go green. Ada beberapa bahan bekas, seperti sisa gergajian, pelepah pisang, hingga bubur kertas, yang menjadi pilihannya. Tapi bubur kertas yang Sumarsono pilih. Ia mengaku ada karakter khas yang didapatkannya dari material itu. "Dia natural," sambungnya.

Tapi, membuat karya seni dari bubur kertas ternyata tak mudah. Awalnya, ia membuat panel seni dari bubur kertas yang bentuknya dua dimensi. Desainnya pun dinamis dengan berbagai warna. Ada enam tahun Sumarsono melakukan eksperimen terhadap karya seninya. Tahun 2006, lukisannya bisa dibilang berhasil dibuat sesuai harapan. Tidak ada literatur yang menjadi panduannya. "Kita semua meraba karena kita mengembangkan suatu produk yang orang lain belum lakukan," kata dia.

Lantas, ia pun memberanikan diri menjajakan produk panel seni bubur kertasnya ke pasar kaget. Ia membuat 15 buah lukisan dengan ukuran 80x120 sentimeter. Sumarsono pun kaget karena sisa jualannya hanya lima lukisan. Saat itulah kepercayaan dirinya terbangun.

Tahun 2007, ia pun mulai diajak oleh Pemerintah Daerah tempat dia tinggal, di Bogor, Jawa Barat, untuk ikut pameran. Sejumlah pameran diikutinya. Melalui pameran, ia berinteraksi dengan pembeli yang akhirnya menghasilkan masukan bagi produknya. Dikatakannya, pembeli mengeluh harga produk yang mahal dan berukuran besar sehingga sulit dibawa perjalanan jauh. Harga lukisan memang sempat dibanderolnya Rp 1,5 juta.

Seorang pembeli asing pun mengeluhkan besarnya lukisan sehingga sulit dikemas untuk dibawa pulang ke negaranya. Dari pengalaman itu, Sumarsono berusaha mencari ukuran yang pas agar lukisannya bisa dibawa dengan mudah. Ini dilakukannya mulai tahun 2010. "Delapan buah lukisan seberat 5 kilogram. Jadi nggak berat. Kan jatah bagasi 20 kilogram di pesawat," sebutnya.

Dalam berproduksi, Sumarsono tak membuatnya semua bagian panel bubur kertas sendirian. Bahan panel dari dia, tapi pengerjaannya dilakukan oleh orang lain. Dan, tenaga kerja tetapnya hanya tiga orang. Untuk kertasnya, ia mencari kertas koran dari pengepul harian. Satu bulan, usaha panel bubur kertasnya bisa menggunakan 300-400 kilogram koran bekas. Harga belinya pun sengaja ia lebihkan. "Dari rumahan saya patok harga Rp 2.000 per 1 kilogram, walaupun Rp 1.000 mereka sudah untung," ungkap dia.

Karena biaya produksinya terbilang rendah, ia pun bisa menekan harga jual. Untuk lukisan berukuran 45X45 sentimeter, ia membanderol seharga Rp 75.000-Rp 100.000. Produksi pun bisa ribuan panel dalam satu bulan.

Ukuran yang pas diklaimnya sebagai salah satu alasan larisnya panel. Apalagi produk panelnya memang dibuat berseri atau satu rangkaian. Jadi satu pembeli biasanya tidak hanya membeli satu buah panel. "Kita kasih harga Rp 75.000 kalau beli enam buah," ucapnya. Sumarsono pun mengaku belum pernah mengambil modal dari bank selama ini.

Bila ada permintaan, maka uang muka sebesar 30 persen sudah menutupi biaya produksi sebuah pemesanan. Penjualan pun tidak hanya dalam negeri. Ekspor dilakukan Sumarsono. Tapi tidak secara langsung. Ia mengandalkan buyer dan eksportir. "Setiap pameran suka dapat buyer. Entah dari Brasil, Malaysia," tutur dia.
Dengan penjualan yang begitu gencar, omzet besar pun dihasilkan dari panel seni bubur kertasnya. Omzet terus meningkat. Dulu, kata dia, paling hanya Rp 20 juta per bulan sekarang bisa mencapai Rp 30 juta per bulan. "Dari situ nggak usah minjam. Ambil 20 persen untuk produksi," ujar dia.

Ke depan, ia menjanjikan, produk panelnya tidak akan sama. Akan ada yang berubah dalam jangka waktu tertentu. Lalu, ia akan mengenalkannya melalui pameran.
Untuk sekarang ini, pada produk panelnya, warna era-80an ia hidupkan kembali dengan dominasi oranye. Sekalipun produk panel bisa berubah motif dan ukuran, tetapi fokus pasar tetap rumah yang modelnya minimalis. Lalu, ia berusaha menggunakan warna dasar hitam. Ini dilakukannya agar produk lukisan bubur kertasnya masuk ke semua warna cat rumah.

Ia pun tidak hanya menjual produk. Tapi, dia menularkan usahanya yang ramah lingkungan melalui pelatihan. Dia sering diajak untuk menjadi pembicara dalam pelatihan. Sumarsono juga berprofesi sebagai trainer recycle paper. "Pelatihan sudah pernah saya kerjakan di NTB, Serang, Jakarta," ungkapnya.

Dari pelatihan itu, ia pun bisa mendapatkan penghasilan. Itu karena pelatihan memungut biaya. Biaya yang ditarik per orang dalam suatu pelatihan bisa mencapai Rp 2,5 juta. Semakin sedikit orang yang mengikuti dalam satu kelas, biaya pelatihan pun bisa semakin mahal. "Di situ hitung-hitungan bisnisnya ada, kenapa saya nggak ambil," sambung Sumarsono.

Ia pun tak masalah bila ada yang mengikuti produk lukisannya. Pasalnya, Sumarsono berkilah ia sudah mempunyai jam terbang yang tinggi. Lagi pula, kata dia, gaya lukisan setiap orang berbeda. "Mereka akan mengangkat budaya mereka, gambar-gambar mereka," pungkas dia.(mlk)

Sumber: Kompas.com

Fitriyanto, Kuli Bangunan yang Kini Bos Produk Salon Mobil

Fitriyanto hanya lulusan SMA. Tapi, berkat tekad yang diiringi dengan usaha keras, ia sukses menjadi produsen perawatan mobil merek Autofit. Pemilik PT Vitechindo Perkasa ini mampu membikin produk yang bisa bersaing dengan merek terkenal.

Hidup ini bagi Fitriyanto benar-benar sebuah perjuangan. Ia lahir dari keluarga sederhana, kalau tidak disebut miskin. Ayahnya hanya seorang tukang kayu. Tapi, dengan tekad yang bulat dan usaha yang kuat, Fitriyanto mampu menjadi seorang pengusaha produk perawatan mobil yang terbilang sukses.

PT Vitechindo Perkasa, perusahaan milik Fitriyanto, berhasil memasok produknya ke bengkel resmi milik agen tunggal pemegang merek (ATPM) besar, seperti Toyota, Daihatsu, Isuzu, Honda, Nissan, Hyundai, Suzuki, Kia, dan Mazda. Bisnis ini menghasilkan omzet Rp 8 miliar per tahun.

Label merek produk buatan Fitriyanto adalah Autofit. Saat ini, ada 20 produk merek Autofit yang sudah diproduksi, antara lain produk sampo, semir ban, pelumas, pembersih evaporator, injection purge, cairan pembersih bahan bakar, pembersih blok mesin, pembersih karburator, dan pembersih ruang bakar mesin kendaraan.

Uniknya, untuk meracik Autofit, Fitriyanto sama sekali tidak memperdalam ilmu kimia secara formal. “Semua saya pelajari secara autodidak,” kata pria kelahiran Purbalingga, 10 November 1972 ini.

Ayahnya yang seorang tukang kayu tentu tak mampu menyekolahkannya tinggi-tinggi. Maka, ketika lulus SMA, pada tahun 1992, Fitriyanto langsung hijrah ke Jakarta. Anak bungsu dari lima bersaudara ini menjadi kuli bangunan.

Enam bulan menjadi kuli bangunan, Fitriyanto pindah menjadi tukang bantu-bantu di rumah Rachmat Gobel, kini Presiden Komisaris PT Panasonic Manufacturing Indonesia. Di rumah itulah ia ketemu dengan salah satu manajer Panasonic. “Saya ditawari kerja,” ujarnya. Ia lalu menjadi pegawai di Panasonic, divisi komponen, yang memproduksi semua speaker.

Di waktu senggang, Fitriyanto selalu meluangkan waktu untuk membaca buku kisah orang sukses. “Saya menghimpun tekad untuk menjadi orang sukses. Dari buku yang saya baca, orang sukses kebanyakan mengawali karier sebagai tenaga pemasaran (marketing),” kata suami Lihardiana ini.

Fitriyanto lantas hengkang dari Panasonic dan pada tahun 1995, ia menjadi tenaga pemasar di produsen minuman. “Saya mendapat upah Rp 75.000 per bulan, jauh lebih kecil ketimbang jadi kuli bangunan. Ketika jadi kuli, upah saya Rp 60.000 per minggu,” kata Fitriyanto yang akhirnya keluar setelah tiga bulan bekerja.

Lantaran bertekad jadi tenaga pemasar, Fitriyanto kembali masuk ke perusahaan cokelat selama setahun, sebelum akhirnya pindah ke PT Prima Karya Gandareksa, perusahaan kimia. Ia tetap jadi tenaga pemasar, tetapi dengan gaji Rp 5 juta per bulan. “Saya banyak belajar tentang produk perawatan mobil di sini,” katanya. Lantaran kinerjanya bagus, perusahaan menugaskannya ke Bali. Tapi, ia memilih mundur lantaran tak ingin jauh dari keluarga. Selama setahun, ia beberapa kali pindah kerja di perusahaan kimia.

Fitriyanto akhirnya masuk ke perusahaan produk perawatan mobil dari Jerman. “Di perusahaan ini, saya suka memperhatikan para peracik produk. Saya pelajari, bahan apa saja yang diramu menjadi produk perawatan,” katanya.
Setiap Sabtu dan Minggu, dia pergi ke toko kimia untuk mempelajari bahan-bahan kimia yang bisa diramu menjadi produk perawatan mobil. Dia bertahan selama lima tahun di perusahaan itu sebelum akhirnya mengundurkan diri dengan posisi gaji terakhir Rp 24 juta per bulan.
Pinjam uang ke bank
Pengalaman di perusahaan pembuatan produk perawatan mobil membuat Fitriyanto percaya diri untuk memulai usaha sendiri. “Sebagai tenaga pemasar, saya sudah memegang banyak pelanggan. Saya juga sudah bisa membuat produk sendiri,” katanya.

Dengan memanfaatkan bengkel sepeda motor di Cikeas, Bogor, yang didirikan saat masih bekerja, pada 2007, Fitriyanto memulai usaha produk perawatan mobil. “Saat itu, cuma ada satu montir dan tempatnya sangat sederhana,” kenangnya. Di bengkel itu, dia meracik bahan setelah memenangi tender pengadaan produk perawatan mobil dari salah satu bengkel mobil besar.

Lantaran tak punya modal, Fitriyanto mencari pinjaman bank sebesar Rp 25 juta. “Karena tidak ada agunan, modalnya hanya kepercayaan. Bank itu menjadi pelanggan di bengkel kami,” katanya.
Dari modal Rp 25 juta, ia bisa menghasilkan omzet Rp 80 juta. Tiga tahun berjalan, usahanya semakin besar. Dengan pinjaman bank yang lebih besar, dia membuka pabrik di daerah Cipayung, Jakarta Timur, dan mendirikan PT Vitechindo Perkasa.

Saat ini, Fitriyanto memiliki 35 karyawan dan sejak awal bulan Juni 2012, dia membuka lembaga kursus bahasa Inggris dan komputer. “Saya sendiri tak bisa mengoperasikan komputer,” katanya sambil tertawa. Ia juga membuka sekolah taman kanak-kanak sembari menjalankan usaha bengkelnya. (Fransiska Firlana/Kontan)(mlk)

Sumber: Kompas.com

Sabtu, 12 September 2009

Masyarakat RI Semangat Jadi Wirausahawan

Tahun ini, jumlah wirausahawan RI ditargetkan mencapai 2% penduduk.

Kementerian Koperasi dan UMKM menargetkan pada tahun ini jumlah wirausahawan di Indonesia mencapai dua persen dari total penduduk. Salah satu syarat negara maju adalah empat persen dari total penduduk memiliki usaha sendiri.

Menteri Koperasi dan UMKM, Syarief Hasan, menjelaskan bahwa berdasarkan data terakhir menunjukkan baru sekitar 1,56 persen penduduk Indonesia berwirausaha. Ia optimistis, pada 2012, jumlahnya akan meningkat hingga dua persen.

"Tadinya, saya berpikir sampai akhir masa jabatan saya jumlahnya naik menjadi dua persen. Namun, bila melihat semangat masyarakat Indonesia, saya ubah target itu jangan 2014, tapi 2012," kata Syarief dalam Entrepreneur Festival di Jakarta, Jumat 22 Juni 2012.

Di hadapan para calon wirausaha ini, Syarief berpesan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada di sekitar mereka untuk menghasilkan suatu produk yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.

Ia menjelaskan, para wirausahawan dapat memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sedang baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini terbaik di Asia Tenggara dan terbaik ketiga dalam kelompok negara G-20.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan negara maju memiliki sedikitnya empat persen masyarakat yang menjadi wirausahawan.

Mengutip data Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), untuk mencetak wirausahawan, 40 persen dari total penduduk suatu negara harus memiliki akses kepada perguruan tinggi. Sementara itu, Indonesia, baru delapan persen. (art) (mlk)

Sumber : vivanews.com