Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2012

Program Wirausaha Muda Mandiri 2012 sudah sampai pada tahapan penjurian wilayah yang dilaksanakan secara bertahap. Berikut adalah hasil Penjurian Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri di wilayah : ;.

Belajar Otodidak, Muzakki Raih Omzet Ratusan Juta

Muhammad Muzakki sukses menggeluti usaha pembuatan booth sejak 2008. Pria asal Jakarta ini mengerjakan pesanan booth mulai tahap desain hingga pesanan selesai dan siap pakai.

Mengasah Naluri Bisnis

Ketika pulang dari kuliah di Amerika Serikat, Erwin Aksa menggenggam optimisme tinggi. Ia sudah belajar banyak dari para usahawan Amerika dan terutama di ruang kuliah.

Empat Tips Kelola Bisnis Pemula ala Ciputra

Pengusaha kawakan Ciputra memberikan tips mengelola bisnis, khususnya untuk pebisnis pemula. Seperti apa?

Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Buku “Chairul Tanjung Si Anak Singkong” diluncurkan bertepatan usia Chairul Tanjung (CT) setengah abad. CT, demikian nama panggilannya, adalah pengusaha Indonesia yang sukses dalam wirausahanya dan memperluas usahanya.

Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

Belajar Otodidak, Muzakki Raih Omzet Ratusan Juta

Muhammad Muzakki sukses menggeluti usaha pembuatan booth sejak 2008. Pria asal Jakarta ini mengerjakan pesanan booth mulai tahap desain hingga pesanan selesai dan siap pakai.

Muzakki menerima pesanan booth dalam pelbagai ukuran, seperti booth mini, booth mini kafe, island booth, hingga booth untuk pameran. Booth-booth tersebut dibuat dalam pelbagai model dan bentuk.
"Desain buatan saya cenderung elegan, minimalis, dan mengikuti tren yang ada," kata Muzakki.

Konsep desainnya sendiri murni berasal dari idenya, dengan melihat desain-desain booth yang sedang menjadi tren. Kadang, ia juga menerima masukan pelanggan dalam setiap desain booth-nya.
Menurut Muzakki, desain yang sekarang lagi ngetren adalah booth dengan bentuk karakter kartun, didukung gambar-gambar tiga dimensi (3D).

Menurut dia, tampilan booth sekarang memang harus dibuat semenarik mungkin. Dengan begitu, booth yang bakal dipakai sebagai tempat berjualan bisa menarik konsumen untuk mampir dan belanja.

Muzakki mematok tarif setiap desain booth sebesar Rp 300.000. Sementara itu, produksi satu booth Rp 3,5 juta-Rp 37 juta, tergantung ukuran, bahan, dan tingkat kerumitan.

Omzet yang dikantonginya mencapai sekitar Rp 200 juta per bulan. "Dalam sebulan, saya bisa mendesain lebih dari 20 booth dan produksi booth 10 unit hingga 15 unit," kata pria berusia 31 tahun ini.

Muzakki mengaku belajar membuat desain booth secara otodidak. Awalnya, ia membuat booth untuk dipakai sendiri. Kebetulan saat itu ia baru saja memulai bisnis penjualan teh.

Bisnis tehnya ternyata tidak berkembang. Di saat itulah, Muzakki melihat peluang bisnis membuat booth. Ia pun memutuskan untuk fokus menekuni usaha pembuatan booth.

"Awalnya, saya membeli software untuk desain booth. Saya pelajari cara-cara pembuatannya juga. Semua secara otodidak," ujar sarjana Ilmu Fisika ini.

Saat ini, banyak pengusaha waralaba yang memesan booth kepadanya, seperti D'Paris Crepes, Solopuchino, dan Javapuccino. (Revi Yohana/Kontan)(mlk)

Senin, 24 September 2012

Bisnis Terbaik


Seorang usahawan muda di Jakarta punya 10 juta dollar AS atau setara dengan Rp 94 miliar. Ia bingung untuk investasi. Kalau dideposito dan sebutlah ia dapat bunga 4 persen, setahun uangnya bertambah Rp 3,769 miliar atau Rp 313 juta per bulan. Cukup enak. Namun, bukan wataknya menyimpan uang di bank. Ia lebih suka bertarung di lapangan.

Kepada ayahnya yang seorang usahawan komponen otomotif, anak muda itu minta saran. Ayahnya berkata, ”Mantapkan hatimu. Masuklah ke bisnis yang engkau sukai dan benar-benar kuasai. Jangan terombang-ambing. Jangan silau kemajuan usahawan lain. Putuskan, dan lupakan!”

Anak muda ini terkesiap oleh ucapan ayahnya. Ia lalu menimbang lagi. Kalau membangun hotel bintang dua, ia bisa mendapatkan dua hotel dengan masing-masing di atas 100 kamar. Jika hotel selalu ”hampir penuh” dan dikelola baik, ia bisa berharap modal kembali kurang dari empat tahun. Ia tinggal menghitung laba.

Kalau membuka kafe waralaba asing, ia bisa memperoleh setidaknya 30 kafe kelas satu. Ia masukkan ke mal dan bayar sewa. Kalau berjalan mulus, investasi bisa balik dalam tiga tahun. Jika gagal?
Terombang-ambing, ia teringat nasihat ayahnya. Masuk ke bisnis yang ia kuasai benar. Dan bisnis itu adalah perminyakan. Selama delapan tahun terakhir, ia bekerja di sebuah perusahaan minyak bumi. Maka, ia tetapkan hati masuk ke minyak.

Berdasarkan izin legal yang ia peroleh, ia gunakan uangnya untuk ”mencari sumur minyak” di Pulau Sumatera. Menurut hitungan sederhana, kalau beruntung, pencarian pertama saja sudah bisa menemukan sumur minyak. Pada eksplorasi pertama, tidak ditemukan apa-apa. Ia tidak terpukul. Pada eksplorasi kedelapan, ditemukan sumur minyak, tetapi tidak layak. Ongkos eksplorasi malah lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan minyak. Di sini ia berdebar. Terus atau tidak? Uangnya hanya cukup untuk dua kali lagi pencarian minyak lagi. Kalau hasilnya nihil?

Pada titik amat kritis ini, ia teringat kembali nasihat ayahnya. Putuskan dan lupakan. Ia putuskan terus mencari. Lupakan, agar ia tidak menyesal kalau seluruh hasilnya buruk. Pada pencarian kesembilan, kembali timnya gagal.

Pada kesempatan terakhir, usahawan ini bisa tersenyum. Timnya menemukan sumur minyak. Tidak besar, ”hanya” 10.500 barrel per hari. Ia sujud syukur. Kini ia bisa membangun perusahaan ritel, beberapa kafe, restoran yang laris, dan membeli saham sebuah bank swasta nasional. (Abun Sanda)(mlk)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Erlangga Djumena

Selasa, 17 Juli 2012

Bermodalkan Rp 50.000, Produk Dewi Tanjung hingga ke Inggris

International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Awards British Council 2012 akhirnya memilih Dewi Tanjung dan Diana Rikasari sebagai pemenang. Nama keduanya diumumkan pada Awarding Night IYCE Awards 2012, di Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sabtu (14/7/2012). Kedua pemenang berhasil menyisihkan 18 finalis lainnya dalam memperebutkan juara untuk Kategori Desain dan Fesyen serta Kategori Film dan Interaktif.

"Pemilik CV De Tanjung Indonesia, Dewi Tanjung, terpilih menjadi pemenang IYCE Awards 2012 untuk Kategori Desain dan Fesyen, sementara penulis blog dan pemilik UP! Shoes Diana Rikasari menjadi pemenang untuk Kategori Film dan Interaktif," sebut siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (16/7/2012).

Dewi Tanjung pertama kali mengembangkan usahanya hanya dengan bermodalkan Rp 50.000. Berdiri tahun 2003, bisnisnya bergerak dalam produksi kerajinan tradisional, kartu undangan pernikahan, dan suvenir.

Dalam memproduksi kerajinan tradisional ini, Dewi mengkhususkan diri pada penggunaan barang daur ulang, seperti botol, kain perca, dan dedaunan kering.

Ia memberdayakan komunitas wanita di perkampungan Banjararum dan penjara wanita Sukun. Dewi juga sebelumnya merupakan pemenang Wirusaha Muda Mandiri 2010 kategori Industri Kreatif.

Saat ini, CV De Tanjung telah melayani lebih dari 1.200 klien dalam dan luar negeri, seperti  London, Paris, Adelaide, New York, Amsterdam, Arizona, dan Kuala Lumpur. Produk De Tanjung telah menjadi buah tangan Malang favorit selebriti dan tokoh terkemuka Indonesia.

Sementara pemenang untuk Kategori Film dan Interaktif, Diana Rikasari, membuat terobosan dalam industri fashion e-commerce untuk lini sepatunya dengan menggunakan media digital dan internet.

Berpengalaman lima tahun sebagai penulis blog Indonesia terkenal bertajuk "Hot Chocolate and Mint" membuat Diana terlibat aktif dalam belajar memahami dan menginspirasi pembacanya. Ini pula yang mengantarkan bisnisnya menjadi salah satu Top 50 Usaha Kecil Menengah Go Online 2012 versi majalah Marketers.

Toko online UP! tidak hanya memberikan pengalaman berbelanja yang cepat dan menyenangkan, tetapi toko juga menyediakan ruang yang bisa dinikmati oleh pengunjungnya, seperti mengunduh wallpapers, ring tone, dan tema handphone gratis, penyediaan konsultasi mengenai ukuran, desain, dan bahkan kepemilikan halaman profil sendiri.

Lebih dari sekadar usaha sepatu, UP! sukses membangun sebuah komunitas. Kepeduliannya pada masyarakat, terutama anak-anak yang membutuhkan pendidikan, dibuktikan melalui program beasiswa Level UP!.

Kedua pemenang pun berkesempatan mendapatkan pendanaan proyek dari Inggris dan/atau Indonesia. Mereka pun berkunjung ke Inggris selama tujuh hari. Di sana, mereka akan bertemu dengan wirausahawan kreatif muda lainnya dari 27 negara; berjejaring dengan pemuka industri di Inggris, berpartisipasi dalam kegiatan masterclass eksklusif, dan kesempatan untuk mempromosikan usaha kreatif mereka dalam festival internasional.

"British Council akan membuka akses seluas-luasnya kepada para pemenang untuk berkolaborasi secara internasional. Diharapkan, ini dapat mempercepat hubungan mereka dengan para pelaku industri, para agen di Inggris, mitra, dan penanam modal bersama YCE," demikian siaran pers tersebut.(mlk)

Sumber : Kompas.com